BOGOR II PANCEGNEWS II – Suasana mencekam menyelimuti kawasan Gunung Pongkor, Nanggung, Kabupaten Bogor, pada Rabu dini hari (14/1/2026). Di tengah kegelapan, puluhan penambang emas tanpa izin (PETI) harus bertaruh nyawa melawan kepungan gas beracun yang terjebak di perut bumi.

Bukannya membawa pulang emas, sebanyak 64 warga justru harus dievakuasi dalam kondisi kritis setelah terpapar gas Karbon Monoksida (CO).

Tragedi ini diduga dipicu oleh penggunaan mesin generator (genset) di dalam lorong tambang yang sempit dan minim sirkulasi. Di kedalaman yang dikenal sebagai Level 700, asap buangan mesin tersebut berubah menjadi pembunuh senyap. Tanpa adanya aliran udara yang memadai, gas beracun mengisi lorong-lorong sempit, membuat para penambang tumbang satu per satu akibat sesak napas hebat.

“Angka 700 yang sempat viral bukanlah jumlah korban, melainkan kode kedalaman lubang atau lokasi kejadian,” tegas Kapolres Bogor, AKBP Rio Wahyu Anggoro, meluruskan simpang siur informasi yang sempat memicu kepanikan warga.

Meski mayoritas korban (52 orang) telah diizinkan pulang setelah mendapatkan bantuan oksigen darurat, trauma dan luka fisik masih membekas bagi mereka yang tersisa. Hingga Rabu malam:

  • 7 orang masih berjuang di ruang perawatan intensif RSUD Leuwiliang.
  • 5 orang lainnya dalam observasi ketat di klinik terdekat.

Kondisi mereka dilaporkan belum stabil, menunjukkan betapa fatalnya paparan gas di kedalaman tersebut bagi paru-paru manusia.

Upaya penyelamatan pun bukan tanpa hambatan. Tim SAR gabungan harus berhadapan dengan risiko yang sama. Meski semangat untuk menyisir sisa korban di Level 700 sangat besar, operasi terpaksa dihentikan sementara.

“Kadar gas beracun masih di atas ambang batas normal. Sangat berbahaya bagi keselamatan petugas jika dipaksakan masuk lebih dalam,” lapor tim di lapangan.

Kini, garis polisi telah membentang di mulut tambang ilegal tersebut—sebuah pengingat bisu akan bahaya nyata yang mengintai di balik kilau emas Gunung Pongkor. Pihak berwenang memperingatkan dengan keras agar tidak ada lagi warga yang berani mendekat, karena maut masih mungkin mengintai di balik kabut gas yang belum sepenuhnya hilang.(red/rafli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *